Rabu, 03 Mei 2017

Galaksi dan Polusi Cahaya

Galaksi bima sakti merupakan tempat kita berada di alam semesta ini. Galaksi bima sakti termasuk galaksi spiral, yang terdiri dari piringan atau lengan bintang-bintang yang berotasi, materi antarbintang, tonjolan (bulge), dan sebuah lubang hitam supermasif di pusatnya. Oleh karena posisi kita di lengan galaksi, kita dapat melihat pusat galaksi kita sebagai awan debu yang penuh bintang pada bulan tertentu di tempat yang gelap dan minim gangguan karena awan debu tersebut sangat redup dibanding bintang-bintang paling terang di langit malam.


Penggunaan lampu di perkotaan telah menjadi suatu kebutuhan masyarakat dan tak terlepaskan dari kehidupan sehari-hari. Terkadang, ada lampu yang dibiarkan menyala ke arah langit, menyebabkan langit menjadi terlihat terang. Inilah yang disebut sebagai polusi cahaya. Hal seperti ini sangat mengganggu, baik bagi manusia ataupun hewan. Salah satu dampaknya adalah pada hewan nokturnal yang waktu tidurnya menjadi terganggu karena cahaya terang dari lampu. Polusi cahaya merupakan jenis polusi yang sering luput dari perhatian, sekaligus polusi yang paling mudah ditangani, penangannya cukup dengan mematikan lampu atau mengurangi pencahayaan yang tidak digunakan. Polusi cahaya juga sangat mengganggu astronom karena cahaya dari objek yang sangat redup menjadi tidak terlihat. Normalnya dengan mata telanjang seseorang dapat melihat 6000 bintang di langit malam yang amat gelap. Akan tetapi, hanya beberapa bintang paling terang saja yang dapat terlihat akibat gangguan polusi cahaya.

Kondisi seperti ini membuat banyak orang tidak pernah dapat melihat bentangan galaksi bima sakti di langit malam dengan mata telanjang. Untuk kota seperti Jakarta, masih ada beberapa astrofotografer yang mampu memotret bentangan galaksi bima sakti dengan teknik tertentu, meski hasilnya tidak terlalu bagus, tetapi rasanya mustahil untuk melihatnya dengan mata telanjang. Gangguan dari polusi cahaya, ditambah polusi udara membuat langit kurang enak dipandang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan kesadaran bersama untuk menggunakan lampu secara bijaksana. Mematikan lampu yang tidak digunakan, mengarahkan nyala lampu ke bawah, memasang penutup di atas lampu taman agar cahayanya tidak mengarah ke langit merupakan cara yang tidak terlalu sulit untuk dilakukan semua orang, tetapi cukup efisien dalam mengurangi dampak dari polusi cahaya. Hal tersebut juga dapat mengurangi penggunaan energi. Untuk alasan yang sama pula diadakan Earth Hour dengan mematikan semua lampu yang tidak dipakai selama 1 jam untuk mengurangi polusi cahaya dan pemborosan energi. Mungkin saja, anak-cucu kita masih akan dapat mengamati bentangan galaksi bima sakti di langit malam dan mengapresiasi keindahan alam semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-Mohon untuk tidak spam di komentar-